PENGHARGAAN PAHLAWAN NASIONAL KEPADA 4 TOKOH DAN BIOGRAFINYA
Gelar adalah penghargaan negara yang diberikan Presiden kepada seseorang yang telah gugur atau meninggal dunia atas perjuangan , pengabdian, darma bakti dan karya yang luar biasa kepada bangsa dan negara. Sesuai pasal 15 Undang-Undang Dasar 1945 dinyatakan bahwa “Presiden memberi gelar, tanda jasa dan lain-lain tanda kehormatan”, yang diatur dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 Tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan.
Berkenaan dengan hal tersebut, sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan pengorbanan para pahlawan, maka seseorang yang dianggap layak sebagai Pahlawan Nasional sesuai dengan ketentuan dan kriteria yang berlaku akan dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional yang dilaksanakan dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan yaitu tanggal 10 November 2014 di Istana Negara, dilaksanakan penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 64/TK/Tahun 2014 tanggal 11 Agustus 2014 dan Nomor 115/TK/Tahun 2014 tanggal 6 November 2014 Presiden menetapkan untuk menganugerahkan Gelar “Pahlawan Nasional” kepada 4 orang putra terbaik bangsa Indonesia, yaitu :
1. Letjen Djamin Gintings, tokoh dari Provinsi Sumatera Utara
2. Sukarni Kartodiwirjo, dari Blitar - Jawa Timur
3. K.H. Abdul Wahab Chasbullah, tokoh dari Provinsi Jawa Timur
4. Jenderal Mayor TKR H. R. Mohamad Mangoendiprojo, tokoh dari Provinsi Jawa Timur
Acara dihadiri oleh kurang lebih 150 orang yang terdiri dari para Menteri/para Pejabat Tinggi Negara dan Keluarga Pahlawan Nasional. Dengan adanya penganugerahan kepada 4 (empat) orang putra bangsa terbaik, ini menunjukkan bahwa kita merupakan bangsa yang dapat menghargai jasa maupun karya putra putri terbaik bangsa Indonesia, dapat menjadi contoh dan teladan bagi putra putri bangsa Indonesia lainnya serta motivasi dan pendorong dalam mengikuti jejak langkah menjadi yang terbaik bagi negara dan bangsa Indonesia.
Berikut ini biografi dari keempat pahlawan:
1. Letjen (Purn) Djamin Ginting, tokoh dari Tanah Karo, Provinsi Sumut.
Beliau adalah tokoh dari Provinsi Sumatera Utara. Lahir pada 12 Januari 1921.
Berhasil dalam melancarkan perang gerilya dan memimpin penumpasan pemberontakan DI/TII di Aceh. Sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorium I Bukit Barisan yang menentang keputusan atasannya untuk menunjukan kewetiaannya pada pemerintah RI, dan menjadikan wilayah komandonya sebagai pangkalan operasi pasukan pemerintah menggempur pasukan PRRI di Sumatera.
Presiden Jokowi menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada mendiang Letjen TNI Purnawirawan Jamin Gintings. Pria Batak itu adalah pejuang kemerdekaan yang menentang pemerintahan Hindia Belanda di Tanah Karo.
Jamin adalah satu di antara anak-anak muda Karo yang tergabung dalam kesatuan tentara bentukan Jepang untuk mempertahankan kekuasaan mereka di Asia. Kala itu, putra Batak kelahiran Desa Suka, Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, 12 Januari 1921 silam tersebut tampil sebagai komandan pasukan.
Ketika Jepang kalah pada Perang Dunia II dan mundur dari Indonesia, Jamin maju menyatukan pasukannya melawan Belanda dan Inggris yang masih bernafsu menguasai Sumatera.
Jamin juga ikut melancarkan Operasi Bukit Barisan pada 7 April 1958 untuk menghadapi gerakan pemberontakan Nainggolan di Medan.
Jamin juga ikut melancarkan Operasi Bukit Barisan pada 7 April 1958 untuk menghadapi gerakan pemberontakan Nainggolan di Medan.
Semasa hidupnya berbagai jabatan telah disandang Jamin, antara lain Komandan Resimen, Komandan Pangkalan Tentara dan Teritorium, Panglima Tentara dan Teritorium Bukit Barisan di Sumatera Utara. Selain itu, Asisten II Menteri Panglima Angkatan Darat, dan Inspektur Jenderal Angkatan Darat di Jakarta.
Pada tahun 1968-1972, Jamin menjadi anggota DPR dan Sekretaris Bersama Golongan Karya. Dia juga pernah menjadi Ketua Diskusi Luar Negeri Indonesia dan Ketua Dewan Angkatan 45.
Ayah 5 anak itu pun telah meraih berbagai bintang jasa, seperti Bintang Kartika Eka Paksi Pratama dan Bintang Mahaputra Utama. Dia juga melahirkan 2 buku, 'Bukit Kadir' dan 'Titi Bambu'.
Jelang akhir hayatnya, Jamin masih dipercaya sebagai Duta Besar untuk Kanada. Di tanah itu pulalah dia mengembuskan napas terakhirnya. Dia meninggal di Ottawa, Kanada, 23 Oktober 1974, pada usia 53 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata,Jakarta.
2. Sukarni Karto Kartodiwirjo, lahir di Blitar, Jatim. Berperan dalam merumuskan naskah proklamasi serta mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera memroklamasikan kemerdekaan. Berhasil menghimpun pemuda mendukung pemerintah RI, dan menyelenggarakan rapat raksasa di lapangan Ikada untuk menunjukkan kebulatannya tekad dalam mendukung proklamasi dan mendesak mengambil alih kekuasaan dari pemerintah jepang. Presiden Joko Widodo atau Jokowi memberikan gelar pahlawan nasional kepada 4 tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah Sukarni Kartodiwirjo.
Acara pemberian gelar pahlawan nasionalini berlangsung di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (7/11/2014). Mekanisme penganugerahan gelar pahlawan dilakukan melalui rapat pleno gelar pahlawan nasional, sesuai UU Nomor 20 Tahun 2009.
Acara pemberian gelar pahlawan nasionalini berlangsung di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (7/11/2014). Mekanisme penganugerahan gelar pahlawan dilakukan melalui rapat pleno gelar pahlawan nasional, sesuai UU Nomor 20 Tahun 2009.
Seperti apakah sepak terjang Sukarni menjadikan Indonesia merdeka?
Sukarni lahir pada Kamis Wage 14 Juli 1916 di Desa Sumberdiran, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Ayahnya adalah Kartodiwirjo, keturunan dari Eyang Onggo, juru masak Pangeran Diponegoro. Ibunya bernama Supiah, gadis asal Kediri.
Sukarni masuk sekolah di Mardisiswo di Blitar --semacam Taman Siswa yang dibuat oleh Ki Hajar Dewantara. Dia dikenal sering berbuat onar karena sering berkelahi dan menantang orang Belanda.
Sukarni lahir pada Kamis Wage 14 Juli 1916 di Desa Sumberdiran, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Ayahnya adalah Kartodiwirjo, keturunan dari Eyang Onggo, juru masak Pangeran Diponegoro. Ibunya bernama Supiah, gadis asal Kediri.
Sukarni masuk sekolah di Mardisiswo di Blitar --semacam Taman Siswa yang dibuat oleh Ki Hajar Dewantara. Dia dikenal sering berbuat onar karena sering berkelahi dan menantang orang Belanda.
Perkenalan Sukarni dengan dunia pergerakan nasional yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dimulai ketika usianya 14 tahun. Saat dia masuk menjadi anggota perhimpunan Indonesia Muda tahun 1930.
Hobinya menantang orang Belanda berlanjut ketika berada di MULO, sekolah menengah jaman kolonial. Dia lalu dikeluarkan. Dia melanjutkan sekolahnya ke Yogyakarta dan Jakarta pada sekolah kejuruan guru. Atas bantuan Ibu Wardoyo yang merupakan kakak Bung Karno, dia disekolahkan di Bandung jurusan jurnalistik.
Pada masa-masa di Bandung inilah, Sukarni pernah mengikuti kursus pengkaderan politik pimpinan Soekarno. Disinilah dia bertemu dan bersahabat dengan Wikana, Asmara Hadi, dan SK Trimurti.
Pada 1934 Sukarni menjadi Ketua Pengurus Besar Indonesia Muda, sementara itu Belanda mulai mencurigainya sebagai anak muda militan. Pada 1936 pemerintah kolonial melakukan penggerebekan terhadap para pengurus Indonesia Muda, tapi Sukarni berhasil kabur dan hidup dalam pelarian selama beberapa tahun.
Tidak lama sebelum Jepang masuk, dia tertangkap di Balikpapan dan dibawa ke Samarinda. Namun, setelah Jepang masuk, Sukarni beserta beberapa tokoh pergerakan lain seperti Adam Malik dan Wikana dibebaskan oleh Jepang.
Awal-awal pendudukan Jepang, Sukarni sempat bekerja di kantor berita Antara yang didirikan oleh Adam Malik -- yang kemudian berubah jadi Domei. Di masa Jepang ini, Sukarni juga bertemu Tan Malaka.
PeristiwaRengasdengklok
Nama Sukarni lekat dengan peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Kala itu, pukul 03.00 dini hari Sukarni, Wikana dan sejumlah pemuda lain mendatangi kediaman Sukarno dan Hatta. Mereka meminta Sukarno dan Hatta mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Namun keduanya menolak.
Nama Sukarni lekat dengan peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Kala itu, pukul 03.00 dini hari Sukarni, Wikana dan sejumlah pemuda lain mendatangi kediaman Sukarno dan Hatta. Mereka meminta Sukarno dan Hatta mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Namun keduanya menolak.
Waktu itu Sukarno dan Hatta menginginkan agar proklamasi dilakukan melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), sementara golongan pemuda menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI yang dianggap sebagai badan buatan Jepang.
Akhirnya terjadilah penculikan kedua tokoh tersebut. Keduanya dibawa ke sebuah rumah di Desa Rengasdengklok, Karawang dengan tujuan menjauhkan Sukarno-Hatta dari pengaruh Jepang.
Keesokan harinya, tepat 17 Agustus 1945, pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi kemerdekaan yang diketik Sayuti Melik.
Selanjutnya, Sukarni mengemban amanat kemerdekaan serta bahu-membahu bersama kelompok pemuda lainnya dalam meneruskan berita tentang kemerdekaan Indonesia.
Sukarni sempat menjabat sebagai Ketua Murba yang terbentuk pada November 1948. Dia juga mengemban posisi sebagai Duta Besar di Peking --sekarang Beijing, Tiongkok pada 1961-1964. Terakhir, dia menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung pada awal Orde Baru.
Sukarni sempat menjabat sebagai Ketua Murba yang terbentuk pada November 1948. Dia juga mengemban posisi sebagai Duta Besar di Peking --sekarang Beijing, Tiongkok pada 1961-1964. Terakhir, dia menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung pada awal Orde Baru.
Tokoh yang mendapat Bintang Mahaputra kelas empat ini wafat pada 7 Mei 1971 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
3. Kyai Haji Abdul Wahab Hasbullah, lahir di Jombang. Berperan dalam merumuskan Resolusi Jihad sebagai dukungan terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Berjasa dalam meningkatkan dukungan NU kepada Pemerintah Indonesia dalam memenangkan perang melawan Pemerintah Belanda.
Presiden Joko Widodo atau Jokowi memberikan gelar pahlawankepada 4 tokoh yang dianggap berjasa bagi perjuangan bangsa Indonesia. Acara tersebut berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Jumat (7/11/2014).
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan, mekanisme penganugerahan gelar pahlawan kepada 4 orang tersebut dilakukan melalui rapat pleno gelar pahlawan nasional, sesuai UU Nomor 20 Tahun 2009.
Berikut Profil KH Abdul Wahab Hasbullah;
Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah lahir di Jombang, 31 Maret 1888 – meninggal 29 Desember 1971 pada umur 83 tahun, adalah seorang ulama pendiri Nahdatul Ulama. KH Abdul Wahab merupakan seorang ulama yang berpandangan modern, dakwahnya dimulai dengan mendirikan media massa atau surat kabar, yaitu harian umum “Soeara Nahdlatul Oelama” atau Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama.
Ayah KH Abdul Wahab Hasbullah adalah KH Hasbulloh Said, Pengasuh Pesantren Tambakberas Jombang Jawa Timur, sedangkan Ibundanya bernama Nyai Latifah. dan mempunyai cicit bernama Rizky Fadlullah.
Dia juga seorang pelopor dalam membuka forum diskusi antar ulama, baik di lingkungan NU, Muhammadiyah dan organisasi lainnya. Ia belajar di Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Tawangsari Sepanjang, belajar pada Syaikhona R. Muhammad Kholil Bangkalan Madura, dan Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadratusy Syaikh KH M Hasyim Asy'ari. Disamping itu, Kyai Wahab juga merantau ke Makkah untuk berguru kepada Syaikh Mahfudz at-Tirmasi dan Syaikh Al-Yamani dengan hasil nilai istimewa.
Selain Pendiri NU, KH Abdul Wahab juga pernah menjadi Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah) ketika melawan penjajah Jepang. Dia tercatat sebagai anggota DPA bersama Ki Hajar Dewantoro. Tahun 1914 mendirikan kursus bernama “Tashwirul Afkar”.
Tahun 1916 mendirikan Organisasi Pemuda Islam bernama Nahdlatul Wathan, kemudian pada 1926 menjadi Ketua Tim Komite Hijaz. KH. Abdul Wahab Hasbulloh juga seorang pencetus dasar-dasar kepemimpinan dalam organisasi NU dengan adanya dua badan, Syuriyah dan Tanfidziyah sebagai usaha pemersatu kalangan Tua dengan Muda.
KH. A. Wahab Hasbullah adalah pelopor kebebasan berpikir di kalangan Umat Islam Indonesia, khususnya di lingkungan nahdhiyyin. KH. A. Wahab Hasbullah merupakan seorang ulama besar Indonesia. Ia merupakan seorang ulama yang menekankan pentingnya kebebasan dalam keberagamaan terutama kebebasan berpikir dan berpendapat. Untuk itu kyai Abdul Wahab Hasbullah membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada 1914.
Tahun 1916 mendirikan Organisasi Pemuda Islam bernama Nahdlatul Wathan, kemudian pada 1926 menjadi Ketua Tim Komite Hijaz. KH. Abdul Wahab Hasbulloh juga seorang pencetus dasar-dasar kepemimpinan dalam organisasi NU dengan adanya dua badan, Syuriyah dan Tanfidziyah sebagai usaha pemersatu kalangan Tua dengan Muda.
KH. A. Wahab Hasbullah adalah pelopor kebebasan berpikir di kalangan Umat Islam Indonesia, khususnya di lingkungan nahdhiyyin. KH. A. Wahab Hasbullah merupakan seorang ulama besar Indonesia. Ia merupakan seorang ulama yang menekankan pentingnya kebebasan dalam keberagamaan terutama kebebasan berpikir dan berpendapat. Untuk itu kyai Abdul Wahab Hasbullah membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada 1914.
4. Jenderal Mayor TKR H. R. Mohamad Mangoendiprojo, tokoh dari Provinsi Jawa Timur
Darah pejuang sudah mengalir di tubuhnya. Karena itu, tak heran Haji Raden Mohamad Mangoendiprodjomenghabiskan sebagian besar masa hidupnya untuk berjuang menjadikan bangsa ini sebagai negara berdaulat.
Darah pejuang sudah mengalir di tubuhnya. Karena itu, tak heran Haji Raden Mohamad Mangoendiprodjomenghabiskan sebagian besar masa hidupnya untuk berjuang menjadikan bangsa ini sebagai negara berdaulat.
HR Mohamad Mangoendiprodjo pernah bergabung dengan Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Dari sinilah kisah hidupnya sebagai pejuang dimulai.
Tapi, meskipun jejak langkahnya dalam membebaskan tanah air dari bangsa penjajah terekam jelas, nama Mohamad tak banyak dikenal di lingkup nasional. Namanya mulai menjadi sorotan setelah Menteri Sosial Khofifah Indra Parawansa menyebutnya sebagai salah satu penerima gelar pahlawan nasional.
Gelar pahlawan nasional akan dianugerahkan kepada almarhum Mohamad siang hari ini, Jumat (7/11/2014). Gelar kehormatan dan pengakuan atas jasa-jasa Mohamad akan diberikan di Istana Negara oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Gelar itu akan diterima Mohamad bersama 3 pejuang kemerdekaan lainnya.
HR Mohamad Mangoendiprodjo lahir di Sragen, Jawa Tengah, pada 5 Januari 1905. Dia adalah cicit Setjodiwirjo atau Kyai Ngali Muntoha yang tak lain adalah keturunan Sultan Demak dan Prabu Brawidjaja.
Setjodiwirjo merupakan teman seperjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda. Keduanya memperluas pemberontakan melawan penjajah Belanda hingga ke daerah Kertosono, Ngawi, dan Banyuwangi, Jawa Timur.
Garis hidup sebenarnya memberi kesempatan kepada Mohamad Mangoendiprodjo untuk bisa hidup berkecukupan dengan menjadi wakil kepala jaksa dan kemudian asisten wedana, di Jombang, Jawa Timur, setelah lulus dari OSVIA pada 1927.
Namun, rasa kebangsaan dan keinginan membela negara lebih besar dari semua jabatan itu. Hingga akhirnya, pada 1944 ketika usianya 38 tahun, Mohamad Mangoendiprodjo memantapkan langkah menjadi pejuang dengan bergabung ke Tentara Pembela Tanah Air (PETA).
Namun, rasa kebangsaan dan keinginan membela negara lebih besar dari semua jabatan itu. Hingga akhirnya, pada 1944 ketika usianya 38 tahun, Mohamad Mangoendiprodjo memantapkan langkah menjadi pejuang dengan bergabung ke Tentara Pembela Tanah Air (PETA).
Lulus pendidikan, Mohamad Mangoendiprodjo kemudian ditugaskan sebagai Daidancho atau Komandan Batalyon di Sidoardjo.
Setelah Jepang menyerah dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Bung Karno membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di seluruh Indonesia, termasuk Surabaya. Di TKR, Mohamad Mangoendiprodjo menjadi salah satu pemimpin.
Saat tentara sekutu bersama pemerintah Sipil Belanda (NICA) ingin kembali menjajah Indonesia dan melakukan pendaratan di Surabaya pada 25 Oktober 1945, Mohamad bersama para pemimpin TKR lainnya, yang telah dididik PETA, seperti Bung Tomo, Doel Arnowo, Abdul Wahab, Drg Moestopo, berperang melawan para penjajah baru itu.
Pada akhir Oktober, pertempuran antara pemuda dan tentara Sekutu, terjadi di seluruh kota Surabaya. Pimpinan sekutu meminta pertemuan untuk melakukan gencatan senjata dengan Bung Karno dan Bung Hatta pada 29 Oktober 1945, di Surabaya.
Pada akhir Oktober, pertempuran antara pemuda dan tentara Sekutu, terjadi di seluruh kota Surabaya. Pimpinan sekutu meminta pertemuan untuk melakukan gencatan senjata dengan Bung Karno dan Bung Hatta pada 29 Oktober 1945, di Surabaya.
Pada pertemuan tersebut, Mohamad diangkat sebagai pemimpin seluruh TKR Jawa Timur dan sebagai kontak biro dengan pihak Sekutu. Surat pengangkatan ini ditanda-tangani oleh Jendral Oerip Soemomihardjo, seperti juga surat pengangkatan pemimpin TKR Jawa Tengah Jendral Soedirman.
Pada hari yang sama, 29 Oktober 1945 di sore hari, Mohamad bersama Brigadir Mallaby berpatroli keliling kota Surabaya untuk melihat progres gencatan senjata. Rombongan ini berhenti di Jembatan merah depan Gedung Internatio. Dalam gedung, tentara Inggris dari kesatuan Gurkha, sedang dikepung oleh pemuda-pemuda Indonesia di luar gedung untuk diminta menyerah.
Mohamad masuk ke dalam gedung yang dikuasai Inggris untuk negosiasi. Tanpa disangka, Mohamad kemudian disandera oleh tentara Ghurka dan terjadilah tembak-menembak antara tentara Inggris dan pemuda Surabaya. Mobil Mallaby meledak dan terbakar. Mallaby tewas di dalam mobil.
Meninggalnya Mallaby, yang merupakan Jendral Inggris pertama yang mati berperang di Indonesia, membuat Inggris marah dan menggemparkan dunia. Inggris mengultimatum rakyat Surabaya yang mempunyai senjata untuk menyerahkan senjata dan mengangkat tangan setinggi-tingginya.
Ultimatum ini tentunya ditolak oleh Mohamad dan jajaran TKR serta pemuda Surabaya, sehingga pada 10 November 1945, Surabaya dihancurkan Inggris melalui darat, laut, dan udara, dan pecahlah perang terbuka.
Pertempuran berlangsung selama 22 hari dan menewaskan 6.315 pejuang TKR. Mohamad walaupun terkena pecahan mortir di pelipisnya, terus memimpin pertempuran melawan tentara Sekutu. Pertempuran ini menjadi titik awal yang menandai Indonesia sebagai negara berdaulat yang tidak mudah dijajah kembali.
Setelah pertempuran Surabaya, Mohamad dipromosikan menjadi mayor jenderal dan kemudian menjadi Kepala Staff TNI, yang surat keputusannya ditanda-tangani Presiden Soekarno.
Setelah mengakhiri karier militer, Mohamad menerima tugas dari Presiden Soekarno menjadi Bupati Ponorogo. Tugas Mohamad adalah mengamankan daerah Madiun setelah pemberontakan PKI Muso. Dia kemudian menerima tugas selanjutnya sebagai residen (gubernur) pertama Lampung, untuk juga mengendalikan keamanan di daerah ini.
Mohamad kemudian meninggal pada 13 Desember 1988, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bandar Lampung.
Setelah mengakhiri karier militer, Mohamad menerima tugas dari Presiden Soekarno menjadi Bupati Ponorogo. Tugas Mohamad adalah mengamankan daerah Madiun setelah pemberontakan PKI Muso. Dia kemudian menerima tugas selanjutnya sebagai residen (gubernur) pertama Lampung, untuk juga mengendalikan keamanan di daerah ini.
Mohamad kemudian meninggal pada 13 Desember 1988, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bandar Lampung.